
Asal Usul Nama Bandung di Masa Kolonial Belanda
Perspektif Historis dari Berbagai Sumber
Nama Bandung memiliki beberapa teori dan cerita yang berkembang, termasuk yang tercatat atau muncul pada masa kolonial Belanda (abad ke-17 hingga ke-20).
Berikut adalah beberapa sumber dan pandangan yang berkaitan dengan asal usul nama Bandung dari periode tersebut:
1. Sumber dari Naskah dan Catatan Kolonial Belanda
Naskah Sadjarah Banten (Kronikel Banten):
Meskipun naskah ini berasal dari tradisi Jawa-Islam, salinan dan penelitiannya banyak dilakukan oleh ahli Belanda. Naskah ini menyebutkan bahwa nama “Bandung” terkait dengan Danau Bandung (Danau Purba Bandung). Istilah “bandung” dalam konteks ini bisa merujuk pada bendungan atau tanggul besar yang terbentuk secara alami dari letusan gunung purba, yang akhirnya menyisakan cekungan (Bandung Basin). Para ahli geologi dan sejarawan Belanda kemudian mengkaitkan ini dengan teori Danau Bandung.
Catatan Perjalanan Ilmuwan Belanda

Dr. Franz Wilhelm Junghuhn (ahli botani dan geologi, 1856): Dalam karyanya tentang Jawa, Junghuhn secara rinci mendeskripsikan Dataran Tinggi Bandung dan sisa-sisa Danau Purba.
Ia menyebut wilayah ini sebagai “Bandong” atau “Bandung”, dan mendokumentasikan legenda lokal serta bukti geologis tentang danau yang mengering. Penelitiannya memperkuat teori bahwa nama Bandung berasal dari lingkungan perairan/danau.
Raffles (dalam History of Java, 1817): Meskipun bukan orang Belanda, karya Raffles menjadi rujukan penting bagi administrasi kolonial. Ia menyebut “Bandong” sebagai salah satu tempat di Parahyangan.
Arsip Resmi Pemerintah Kolonial:
Surat Keputusan Gubernur Jenderal tanggal 25 September 1810 secara resmi memerintahkan pembangunan Jalan Raya Pos (Groote Postweg) oleh Herman Willem Daendels. Dalam perintah tersebut, disebutkan bahwa ibu kota kabupaten akan dipindahkan dari Dayeuhkolot ke lokasi baru di tepi jalan raya itu. Lokasi baru inilah yang kemudian secara resmi berkembang menjadi kota Bandung.
Perpindahan ini diikuti dengan pembangunan alun-alun, pendopo, masjid, dan permukiman di sekitar tahun 1810-1825. Tanggal 25 September kini diresmikan sebagai Hari Jadi Kota Bandung.
2. Teori Etimologi yang Dicatat atau Dipopulerkan pada Masa Kolonial
Dari Kata “Bendung” atau “Bandungan”: Teori yang paling kuat dan didukung bukti geologis adalah bahwa “Bandung” berasal dari kata dalam bahasa Sunda kuno yang berarti “bendungan”, “tanggul”, atau “sesuatu yang terbendung”.
Ini merujuk pada Danau Bandung Purba yang terbentuk karena aliran sungai Citarum terbendung oleh material letusan Gunung Sunda purba dan kemudian Gunung Tangkuban Parahu. Ketika danau itu mengering, tersisa cekungan dataran tinggi yang subur. Para peneliti Belanda seperti Junghuhn dan penulis-penulis kemudian banyak mengadopsi penjelasan ini.
Dari Kendaraan “Bandung”: Ada cerita rakyat (folk etymology) yang mungkin berkembang atau dicatat saat itu, bahwa nama Bandung berasal dari kereta kuda bernama “bandong” (sejenis dokar/kereta tertutup) yang digunakan oleh bupati atau orang Belanda untuk berkeliling.
Namun, teori ini dianggap sebagai tafsir setelah fakta dan kurang memiliki dasar historis kuat.
Sangat mungkin nama kereta itu justru diambil dari nama kota, bukan sebaliknya.
Dari Falsafah “Bandung-Bandung” Dalam bahasa Sunda, “bandung” juga berarti “bersama”, “berpasangan”, atau “teman sejati” (seperti dalam frasa “bandung sakita dukanya“).
Meskipun filosofis dan menarik, teori ini lebih bersifat kultural daripada historis-geografis, dan kurang mendapat penekanan dalam literatur kolonial Belanda yang lebih fokus pada fakta administratif dan geografis.
3. Sumber dari Nama Tempat yang Sudah Ada Sebelum Kota Bandung Modern

Sungai Cikapundung: Nama sungai yang membelah kota, Cikapundung, disebut-sebut dalam beberapa catatan lama. Ejaan Belanda sering menulisnya sebagai “Tjikapoendoeng
Dayeuhkolot (Kota Tua): Sebelum pindah ke lokasi sekarang, pusat pemerintahan Kabupaten Bandung berada di Dayeuhkolot (dekat aliran sungai Citarum). Di daerah ini terdapat situs yang disebut “Bandung”, yang mungkin menjadi asal nama kabupaten, yang kemudian dibawa ke ibu kota baru yang dibangun Daendels.
Nama Bandung berasal dari fenomena alam Danau Bandung Purba (Situ Hyang).
Kata “bandung” dalam bahasa Sunda berarti sesuatu yang terbendung atau bendungan raksasa, merujuk pada danau purba yang terbentuk karena pembendungan aliran sungai Citarum oleh material vulkanik.
Pembangunan kota Bandung modern
sendiri adalah produk kebijakan kolonial Belanda (melalui Daendels) yang memindahkan ibu kota kabupaten dari Dayeuhkolot ke titik tertentu di Jalan Raya Pos untuk alasan strategis ekonomi dan militer.
Nama “Bandung” untuk lokasi baru ini diambil dari nama Kabupaten Bandung yang sudah ada sebelumnya, yang namanya sendiri diduga kuat berasal dari legenda dan geografi Danau Bandung Purba.
Dengan demikian, nama Bandung dalam perspektif sejarah kolonial adalah perpaduan antara warisan toponimi lokal (berasal dari kondisi geologis purba) dan keputusan administratif kolonial pada awal abad ke-19 yang mentransformasi sebuah lokasi terpencil menjadi kota modern.
![]()






